Tinjauan Psikososial Ditengah Pandemi Covid-19 Oleh :Ibrahim Syamsuddin, SKM, A.Adm.Kes (Ketua Persakmi Kab.Takalar)

  • Whatsapp

Takalar Topikterkini id, Situasi pandemi virus covid-19 yang familiar dengan sebutan corona, akhir-akhir ini menunjukkan eksistensinya ditandai dengan meningkatnya kasus positif corona, khususnya di kabupaten takalar provinsi sulawesi selatan sendiri telah menjadi peringkat pertama kasus positif cov-19 (207 kasus) menyalip DKI jakarta dan jawa timur di-urutan kedua dan ketiga (laporan per 19/6/2020).
Ini tentu saja masalah, tetapi tanpa bermaksud memandang remeh kesaktian virus ini ada yg lebih menyengsarakan masyarakat dibanding virus tersebut, yakni cara kita bersikap menghadapi pandemi virus corona.
Ada hal penting yg luput dari perhatian pemerintah dan para ahli ditengah pandemi virus corona, yaitu pendekatan psikologis untuk membangkitkan semangat setiap orang melawan virus corona tersebut
Setiap hari kita disuguhkan dengan aneka pemberitaan tentang angka penderita yang terus bertambah, penderita OTG yang menambah rasa saling curiga, jenazah yg ditolak pekuburan, jenazah yg ditahan rumahsakit, berbagai larangan, penutupan puskesmas dan rumah sakit

Yang semuanya menciptakan rasa takut atau kalau boleh dibahasakan meneror setiap orang yg takut tertular

Ada banyak hasil penelitian yang mengaitkan hubungan antara stres dengan menurunnya imunitas tubuh, padahal imunitas ini senjata satu-satunya melawan virus covid-19 yang belum tersedia obatnya
Mereka yang mengalami kecemasan berlebihan dan stres rentan terserang penyakit dan memperparah penyakit yang sudah ada sebelumnya dikenal dgn istilah commonbid dan bahkan berujung kematian
Inilah yabg banyak terjadi, mereka yang tidak menjadi korban keganasan virus corona, menjadi korban rasa takutnya sendiri, stres takut tertular corona lalu sakit dan akhirnya meninggal

Lalu apa yang harus kita lakukan? apakah tawakkal saja tanpa usaha yang cukup?

Tentu saja tidak! pemerintah harus mengajarkan rakyatnya untuk sembuh secara mandiri, jangan biarkan mereka takut menjalani hidup
Kuncinya ada pada kebijakan pemerintah dan media massa yang fokus pada upaya mengurangi beban masyarakat

Pemerintah harusnya memberi masyarakat lebih banyak harapan dengan cerita survivor yang berhasil sembuh dan melewati masa sakitnya, bukan data hebatnya corona yang menjadi alasan mengungkung kebebasan semua orang dan memangkas anggaran daerah

Semua orang bisa terkena virus corona dan mungkin kita semua sudah terpapar virus jahanam ini, jadi untuk apa memutus silaturahmi alasan takut corona

Harusnya pola pikir diperbaiki jika ada yang bisa sembuh maka saya juga PASTI BISA bertahan
Semangat ini yang harus disebarluaskan untuk bangkit, jika tidak maka pilihannya mati sakit atau mati ketakutan atau bahkan keduanya MATI SAKIT KARENA STRES
Faktanya banyak yang tertular tanpa gejala (OTG) karena imunitasnya bagus dan banyak juga yg sembuh hanya dengan istirahat, berjemur, konsumsi vitamin dan olahraga
Perlu diketahui semua yang sembuh TIDAK ADA YG DIOBATI!!!
Kita tidak mampu merubah lingkungan dan memaksa orang lain untuk berubah sesuai keinginan kita, tetapi orang lain juga tidak bisa melarang kita untuk bahagia
Disinilah pentingnya modifikasi suasana hati melalui kegiatan keagamaan, olahraga, seni, konsumsi gizi seimbang, konsumsi herbal alami, melakukan aktivitas menyenangkan bersama keluarga dirumah dan lain-lain
Intinya jangan lupa bahagia tapi perlu diperhatikan kebahagiaan pasti butuh sembako
Susah bahagia jika perut rakyat lapar, inilah prioritas pemerintah yang sesungguhnya disamping menegakkan protokol covid-19
Jadi hentikan dulu informasi tentang data dan berita dahsyatnya corona yang hanya menciptakan rasa tidak nyaman ditengah masyarakat
Melonjaknya kasus positif covid dan jumlah ODP bersamaan dengan intens dan masifnya pemeriksaan rapid dan swab hingga ke pasar pasar
Ini tidak menunjukkan tingginya angka penularan baru pasca lebaran, karena beberapa bulan yang lalu mereka memang sudah sakit namun baru ditemukan (tracing)
Pada faktanya kasus kematian positif corona di kabupaten takalar baru satu orang dgn usia diatas 60tahun dan yang sembuh jauh lebih banyak
Semangat manusia untuk sembuh lebih dahsyat dari corona, yang membunuh semangat kita BUKAN CORONA tetapi sikap negatif kita terhadap penderita corona penyebabnya
Stigma negatif terhadap penderita corona jauh lebih menyakitkan daripada corona itu sendiri
Tak ada manusia yg sanggup dikucilkan, dijauhi, diasingkan, dihindari seperti pasien corona
Bahkan hak mereka yg terakhir setelah jadi jenazah pun dirampas

Ingat anda dan manusia lainnya adalah makhluk Allah yg dirancang menjadi khalifatul fil Ardi, unggul diatas makhluk lainnya tidak layak takut dan tunduk pada virus yg bernama corona!

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *