Menteri Sosial, Penggunan Napsa, Tidak Semua Harus Dihukum Berat, Kecuali Pengedar Yang Harus Dihukum

  • Whatsapp

ket.foto, Wakil Bupati Takalar, H.Achmad Dg.Se’re bersama Menteri Sosial, Julian P Batubara meresmikan panti rehabilitasi korban obat obat terlarang di Pattoppakang Kecamatan Mangarabombang 12/02

TAKALAR TOPOKTERKINI.ID. Menteri Sosial RI, Julian P Batubara, saat hadir di Takalar Sulawesi Selatan, 12/02 meresmikan Loka Rehabilitasi Sosial Korban Napza dan Orang dengan HIV dengan nama Pangurangi yang terletak di Desa Pattoppakang, Kecamatan Mangarabombang, mengatakan bahwa harus dipilah pilah yang mana bisa menjalani rehabilitasi dan mana yang harus dihukum.

Kalau bisa direhab ya direhab, contohnya di Eropa katanya, penjara sepi, tidak seperti di Indonesia.
Julian P Batubara mengajak untuk jangan terlalu memilili nafsu menghukum orang, kalau memang bisa direhabilitasi katanya ya direhabilitasi tidak usah dihukum.

Seperti halnya pengguna Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (Napsa), katanya tidak semua harus dihukum berat, kecuali pengedar itu yang harus dihukum
Dikatakan bahwa Kabupaten Takalar menjadi lokasi pilihan untuk dibangun loka rehabilitasi oleh karena berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) jumlah pengguna narkoba di Sulawesi Selatan tercatat angka tinggi mencapai 138.937 atau sekitar 2,27% dari total penduduk Sulawesi Selatan tahun 2015 dan tahun 2017, angka tersebut kemudian turun hingga angka 1,95% atau sebanyak 133.503.

Tingginya angka ini, dimungkinkan karena Sulawesi Selatan memiliki pelabuhan besar dan strategis sehingga memungkinkan narkoba masuk dengan mudah.
Selain narkoba katanya adalah salah satu kondisi yang menghawatirkan saat ini yakni angka penularan HIV-AIDS sebesar 70% di Indonesia.

Wakil Bupati Takalar H. Achmad Se’re yang mendampingi Menteri Sosial, mengatakan bahwa sekalipun gedung rehabilitasi korban korban pengguna obat obat terlarang, siap di Takalar, masyarakat hendaknya tetap berperan memberikan pemahaman anak anak akan bahaya obat obat terlarang tersebut jangan lengah, lakukan pengawasan agar anak anak tidak terlibat penggunaan obat obat terlarang
Kalau bisa gedung rehabilitaai jangan ada isinya, kata H.De’de panggilan akrab H.Achmad Dg.Se’re
Dikatakan bahwa saat ini 42% penghuni Lapas II B Takalar merupakan pengguna narkoba, tetapi kalau ini semua sudah bersih dan tidak berminat lagi menggunakan obat terlarang, kenapa mesti sulit untuk tidak ada lagi korban selanjutnya
Kalau pengalaman di penjara menjadi pelajaran makas pasti kemudian tidak ada lagi yang berminat
Betapa tidak, dipenjara walau makan siap, tetapi rasa penyesalan pasti ada karena bagi orang berkeluarga berpisah dengan isteri dan anaknya
Sedangkan bagi yang remaja, berpisah dengan keluarganya, ayah ibu dan saudara saudaranya dan yang paling menyengsarakan kalau putus sekolah

Oleh karena diharapkan dengan adanya panti rehabilitasi bisa menjadi assesmen semoga nantinya anak anak pengguna narkoba diangka sekian persen penahanannya kemudian berkurang dari lima tahun menjadi beberapa tahun saja, selebihnya cukup direhabilitasi di panti rehabilitasi di pattoppakan

Kabupaten Takalar menjadi satu dari lima lokasi rehabilitasi sosial Korban Napza dan orang dengan HIV di Indonesia. Empat lokasi lainnya masing masing ; Jakarta, Jawa Barat dan Medan dan lainnya
Humas/Maggarisi Saiyye

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *