Kepala Desa Barana Dituding manfaatkan Proyek Sumur Bor Untuk Mengeruk Keuntungan

oleh -348 views
Kepala Desa Barana Dituding manfaatkan Proyek Sumur Bor Untuk Mengeruk Keuntungan
Kepala Desa Barana, Muh.Asrul

TOPIKTERKINI.ID – JENEPONTO: Dana Desa yang setiap tahunnya diturunkan Pemerintah Pusat untuk membiayai proyek kebutuhan masyarakat di Desa, hendaknya dimanfaatkan se baik mungkin agar bisa bertahan lama dinikmati masyarakat

Namun untuk mendapatkan manfaat maksimal, tidak semudah membalik telapak tangan
Persoalannya, tidak semua Kepala Desa beorientasi kepada tugas pengabdian kepada masyarakat, tetapi masih ditemukan Kepala Desa lebih dominan mengumpulkan pendapatan memperkaya diri

Seperti Kepala Desa Barana Kecamatan Bangkala Barat Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan,  Asrul Bali, S.IP, setiap tahunnya menganggarkan Dana Desa dengan alasan untuk membangun kebetuahan masyarakat tetapi belakangan diketahui lebih banyak mencari keuntungan

Sumber Topikterkini.id, mencontohkan, kepada pengadaan 15 unit sumur bor, masing-masing : 7 unit tahun 2018 dan 8 unit tahun 2019, di Dusun Mattoanging, tidak sampai 50 persen yang bermanfaat, selebihnya lebih seakan hanya dijadikan sebagai obyek mengeruk keuntungan

Betapa tidak kata sumber, untuk 15 unit terpasang hanya pipa secukupnya dilengkapi dengan dudukan mesin, tetapi mesinnya tidak kelihatan

Akbatnya setiap petani membutuhkan air dari sumur bor untuk pertaniannya, masing masing membawa mesin pompa airnya sendiri sehingga petani yang tidak punya mesin pompa air, terpaksa gigit jari alias sebatas menjadi penonton belaka

Jika dihitung material yang terpasang untuk kedalaman 40 meter, pipa hanya 10 batang paket klep dan ongkos kerja, tidak sampai Rp.5 juta

Padahal kata sumber, untuk satu unit sumur bor oleh Kepala Desa menetapkan anggaran Rp.15 juta, selisih Rp.10 juta dikali 15 unit menghasilkan Rp.150 juta

Kepala Desa Barana, Asrul Bali yang dikonfirmasi dirumahnya di Dusun Tanete Desa Barana Sabtu 21/03-2020 mengaku mengerjakan proyek sumur bor tahun 2018 dan tahun 2019, tetapi bukan 15 Unit, melainkan hanya 12 Unit, masing masing 5 Unit tahun 2018 dan 7 Unit tahun 2019

Soal yang disumberkan 50 persen yang tidak bermanfaat, dibantah Kepala Desa, menurutnya hanya 3 Unuit tetapi kemudian digali ualang untuk 3 Unit sebagai penggantinya, jadi total 12 Unit berfungsi sesuai peruntukannya dan semuanya itu katanya sudah diperikasa Inspektorat

Begitu juga untuk mesin pompa pembangkit air, Asrul mengaku tidak mengangarkan, jadi petani yang butuh air dari sumur bor, masing masing membawa mesin pompanya (Red) bersambung

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *