Gowa  

Tanah Warisan Borra Bin Jamaing Diduga Masih Tetap Ingin Dikuasai Pihak Lain

GOWA TOPIKTERKINI.ID, Kerap Kali Dijumpai Tanah Dalam Penguasaan Seseorang, Mau Diambil Alih pihak Lain

Yang seperti ini kerap terjadi bagi orang yang punya power.

Sebagai contoh misalnya tanah milik Borra Bin Jamaing luas kurang lebih 2 ha terletak di kampung mannyampa desa tanakaraeng kecamatan parangloe kabupaten gowa sulawesi selatan, tidak henti-hentinya ingin dikuasai pihak lain, namun upayanya diluar jalur hirarki ke pengadilan negeri setempat melainkan lewat jalur lain.

Seperti diberitakan media ini beberapa bulan lalu bahwa pihak lain punya power ditambah dengan adanya pendungang je’ne lata membuat harga tanah disekitarnya melambung tinggi sehingga muncul orang mengakui tanah warisan Borra bin Jamaing sebagai miliknya.

Dahulu kala selagi ayah Borra, Jamaing masih hidup dan saat belum terbayang mau ada pembebasan tanah, tak seorang pun yang mau mengakui tanah tersebut sebagai miliknya.

Tetapi saat ini dengan rencana pembangunan bendungan, sudah muncul pihak lain mengklaim tanah warisan Borra sebagai miliknya.

Bahkan tak tanggung-tanggung menyerang men jastis pemiliknya sebagai pelaku penyerobot dengan memanfaatkan massa.

Menanggapi tuduhan penyerobotan, para ahli waris Borra bin Jamaing membantah keras seraya menjelaskan bahwa yang memenuhi unsur penyerobotan adalah jika sesuatu harta benda atau tanah dikuasai seseorang baru diambil alih orang lain.

Para ahli waris Borra bin Jamaing selama ini adalah menjaga dan mempertahankan haknya sebagai pewaris seperti kalau melakukan pemagaran terbiasa pengguna jalan yang lewat karena kenal dengannya kerap kali mampir membantu, bukan massa yang dimanfaatkan.

Oleh karena itu dengan tuduhan ini tidaklah berdasar hukum karena tanah tersebut dikuasai secara turun temurun sejak Jamaing masih hidup sampai kepada Borra hingga kepada segenap ahli warisnya.

Borra saat ini masih hidup sebagai ahli waris langsung Jamaing Jamaing yang setiap kali ayahnya ketanah miliknya mengambil sesuatu atau menebang kayu saat kayunya masih banyak selalu bersamanya sehingga disampaikan kepada para ahli warisnya kenal baha tanah yang berusaha diambil alih orang lain adalah warisannya.

Dengan demikian yang dilakukan selama ini hanya menjaga atau mempertahankan akan berpindahnya ke tangan pihak lain.

Tetapi pemilik tanah yang sah tidak rela walau pihak yang diduga mencoba mengambil alih tanah dibak-up oleh kekuatan apapun, sebagai upaya mempertahankan hak kepemilikan, kecuali sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, mengingat republik ini adalah negara hukum.

Betapa tidak di republik ini kata ahli waris Borra, tak seorangpun yang diperbolehkan memperlakukan rakyat secara sewenang- wenang, apalagi menindasnya karena metode seperti itu sudah sangat kolot dan imbasnya tidak tertutup kemungkinan bisa menciptakan kesenjangan sosial dimasyarakat.

Apalagi kalau pihak lain dimaksud tergolong bagian dari pemerintah seyogianya bertindak adil dan bijaksana menempatkan sesuatu kepada tempatnya, tidak pandang kerabat atau keluarga kecuali menganut prinsip yang benar itu benar dan yang salah itu salah, mengakui sesuatu yang dalam penguasaan orang lain, wajarnya dilakukan sesuai aturan hukum yang berlaku, digugat kepada jalur hirarkinya ke pengadilan.

Persoalannya tanah tersebut selain dikuasai secara turun temurun juga tidak pernah berpindah tangan, juga dilengkapi dengan bukti rincik persil 82, kohir 16 CI.

Dikatakan para ahli waris seperti diberitakan sebelumnya bahwa diatas tanah tersebut dahulu terdapat berbagai popohonan tanaman jangka panjang yang setiap kali ditebang, tidak pernah ada pihak lain yang mencoba menghalangi, nanti proyek bendungan je’nelata hadir digowa, baru ada pihak lain diduga mencoba mengambil alih tanahnya bahkan pemilik tanah ber kalai-kali dilapor ke polres gowa dengan tuduhan perampasan/penyerobotan.

Tetapi para ahli waris pemilik tanah yang sah sudah pernah menyatakan via media ini bahwa tidak rela walau pihak yang diduga mencoba mengambil alih tanah di bak-up oleh kekuatan apapun, sebagai upaya mempertahankan hak kepemilikan, kecuali sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, mengingat republik ini adalah negara hukum.

Betapa tidak di republik ini kata ahli waris Borra, tak seorangpun yang diperbolehkan memperlakukan rakyat secara sewenang- wenang, apalagi menindasnya karena metode seperti itu sudah sangat kolot dan imbasnya tidak tertutup kemungkinan akan menciptakan kesenjangan sosial dimasyarakat.

Apalagi kalau pihak lain dimaksud tergolong bagian dari pemerintah, seyogianya bertindak adil dan bijaksana menempatkan sesuatu kepada tempatnya, tidak pandang kerabat atau keluarga kecuali menganut prinsip yang benar itu benar dan yang salah itu salah, mengakui sesuatu yang dalam penguasaan orang lain, wajarnya dilakukan sesuai aturan hukum yang berlaku, digugat kepada jalur hirarkinya ke pengadilan.

Ketika Topikterkini.id mencari tau kembali pihak yang diduga mencoba mengambil alih tanah miliknya, para ahli waris masih tetap merahasiakan identitasnya.

Oleh karena itu hingga berita ini di publis belum ada yang bisa di konfirmasi

Maggarisi Saiyye

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *