Sapri Dinilai Tidak Layak Jadi Pemimpin, Warga Desa Pattoppakang Mohon Pj Bupati Bersikap (3)

Sapri saat dilantik jadi plt kepala desa oleh sekda takalar, H.Arsyad

TAKALAR TOPIKTERKINI.ID, Betapa tidak terlebih asal aparatur sipil negara (ASN) siapapun dia harusnya tampil terdepan menjadi panutan yang baik, seperti setiap hari diajarkan pj bupati Setiawan Aswad, bertutur kata dia lembut, bergaul dia sopan dan santun, bukan sebaliknya arogansi, sombong dan tidak manusiawi.

Seperti Sapri S.Sos karena dia adalah aparatur sipil negara (ASN) dianggap memiliki sifat baik sehingga pada pemilihan kepala desa kurang lebih tiga tahun silam, ia lebih banyak dipilih masyarakat.

Tetapi setelah menjadi kepala desa kata banyak masyarakat, sombongnya minta ampun bisa sampai langit tujuh lapis, berbanding terbalik antara langit dengan bumi.
Saat plt masih bisa bergaul dengan masyarakat tutur katanya lembut tetapi setelah menjadi kepala desa defenitif, sepertinya tidak ada lagi warga yang dihargai terlebih masyarakat berharap pelayanan tidak mungkin bisa merasakan kecuali pendukungnya sendiri kata beberapa warga desa yang minta jadi dirinya tidak ditulis.

Saking sombongnya dan tidak bisa menghargai, orang dekatnya saja kalau ia kerap kali memberikan nasihat akan pentingnya pelayanan dan sifat jujur, diamputasi juga seperti salah-seorang kepala dusunnya tidak rela uang celengan hari raya idul fitri dan idul adha dikuasai pribadi.
Melihat uang celengan tersebut asalnya dari masyarakat masing-masing dusun kemudian dikuasai kepala desa, kepala dusun itu memberikan nasihat sebaiknya dibagi kepada per dusun semoga bisa dimanfaatkan di dusunnya masing-masing, tetapi apa yang terjadi kepala dusun yang niatnya suci saat itu juga diamputasi.

Tetapi sebagian masyarakat menganggap tidak seberapa kalau hal seperti itu saja karena tidak mungkin bisa mati kelaparan tetapi kalau orang carut marut saja kehidupannya, bisa makan siangnya tidak bisa malamnya pun digaris namanya sebagai penerima bantuan kalau tidak taat kehendaknya.

Yang sesungguhnya sebagai pemimpin ibarat penggembala ternak harus berusaha mencarikan makanan ternaknya supaya tidak mati kelaparan tetapi apa yang terjadi kasihan justru makanan yang bisa dinikmati justeru sama seperti ditarik dari depannya kemudian dilempar.

Seperti diberitakan sebelumnya, warga miskin bernama Rabanai digaris namanya dari peserta penerima bantuan beras sehingga orang miskin tersebut kembali meneteskan air matanya saat dikantor desa ingin menerima berasa bantuannya dan disuruh pulang.

Problem masyarakat ini sulit dibicarakan apalagi dengan masyarakat karena takut mendapat getahnya, kepala desa kata banyak masyarakat orangnya tempramen tinggi sedikit-sedikit marah.

Lagian sulit dikonfirmasi karena setiap kali mau dikonfirmasi, setiap kali juga tidak ada ditempat.

Hakim Laja (Bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *