Pengaruh Surat Camat, 2 Oknum Petugas Keamanan Minta Bangunan Warga Miskin Dihentikan

TAKALAR TOPIKTERKINI.ID, Selama indonesia merdeka tahun 1945, terhadap siapa saja yang mendapat musibah semisal gangguan kantibmas, lazimnya minta perlindungan aparat keamanan serta kepada aparat pemerintah.
Namun oleh ahli waris Sittiara Daeng Pati, perempuan Rawia Dg.Si’na bertempat tinggal di dusun paggannakkang desa lakatong kecamatan mangarabombang baru-baru ini mengaku bingung akan kemana minta perlindungan karena yang mendatanginya minta bangunan rumahnya dihentikan adalah sama seperti pihak keamanan seorang seragam cokelat dan seorang seragam loreng bersama aparat desa lakatong, Suang dan Dg.Tinggi di kawal kepala dusun Paggannakkang, Alamsyah Dg.Tompo.
Rawia bersama segenab keluarganya mengatakan bahwa
walau dengan bahasa yang baik, tetapi majelis hakim saja jarang sekali memerintahkan obyek sengketa dikosongkan terlebih
di era reformasi saat ini oleh siapapun juga tidak dibenarkan bertindak sewenang-wenang, mempersulit rakyat apalagi menindas karena metode seperti itu sudah sangat kolot dan imbasnya tidak tertutup kemungkinan akan menciptakan kesenjangan sosial di masyarakat.

Bangunan yang bisa dihentikan kata sumber adalah kalau proses peradilan sudah selesai dan yang bersangutan dinyatakan kalah serta sudah dieksekusi.
Seorang yang mengerti hukum mengatakan bahwa instansi apapun selain pengadilan, tidak satupun yang dilegitimasi undang-undang untuk bisa menghentikan bangunan warga yang sedang berjalan.

Terlebih rumah yang dibangun Rawia Dg.Si’na dari modal beda rumah, bukan diperoleh dengan serta merta melainkan melalui proses yang benar dan tanah tempat membangun rumah bukan dari hasil rampasan, melainkan bagian dari warisan yang sudah dibagi dengan ahli waris, dituangkan diatas kertas pada tanggal 25 April 2006 ditanda tangani masing-masing ; Muh.Herman Bin Nyo’lo disaksikan ibunya, Yasi Dg.Ngintang dan Sittiara Dg.Pati juga disaksikan anaknya, Dabiah.
Namun kemudian Muh.Herman ingin mengambil alih bagian Sittiara Dg.Pati saudara kandung ibunya sendiri.
Rawia bersama segenab keluarganya mengaku dengan penomena ini sangat ironis karena melibatkan warga yang lazim disapa DgNgampa dan Dg.Ngampa inilah yang paling ngotot tanah tersebut diserahkan kepada Herman, entah diapa Dg.Ngampa itu.
Kalau tidak kata Rawia menirukan statemen DgNgampa di kantor desa lakatong baru-baru ini, akan menciptakan kecelakaan bagi Rawia kalau nanti kalah di pengadilan.
Menurut Rawia bahwa Sittiara Dg.Pati(ibunya) bersaudara kandung dengan Yasi Dg.Ngintang ibu Muh Herman dari perkawinan lelaki Nyo’lo dengan perempuan Kapala Dg Baji pemilik awal tanah.

Oleh karena itu lebih terang dari sinar mata hari disiang bolong kalau tanah yang ingin diambil alih kembali Muh Herman adalah bagian dari warisan Sittiara ibu kandung Rawia yang selain sudah dibagi juga asalnya dari perempuan Kapala Dg.Baji, ibu kandung Sittiara dan Yasi Dg Ngintang ibu kandung Muh Herman.

Pihak-pihak yang ada kaitannya dengan derita Rawia hingga berita ini dipublis belum ada yang berhasil dikonformasi.

MaggarisiSaiyye (bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *